Cerita Menarik
D'Owner;
my short bio


Moshimoshi. I'm Mikaila. 10 years old. Live in Jakarta, Indonesia.
**

bold, underlined, italic
blockquote

click the number;
secret box

1 2 3 4
1. Archive
2. Banner
3. Contact me
4. Ask.fm

Walkie Talkie;
chat box



Friends;
my followers


*PUT YOUR FOLLOWERS WIDGET*

Credit;
thanks to;

Template by : Yuuki
Basecodes : Yuuki
Image by : Tumblr & Google
Edited by : YOUR NAME
CERPEN: Harga Sesosok Ayah, Hati, Cinta, dan Keyakinan
Friday, January 16, 2015 | 9:03 PM | 0 waiting



8 mei 2013 Pukul 17.45
Hamparan jingga mulai akan bangun dari tidur lelapnya, dan mulai menghibur putri jingga yang sedang melamun di balik rasa kerinduannya.
Putri jingga sangat menanti jingga sore ini karena rasa bersalahnya yang akan diluapkan kepada sang jingga. Kini rasa bersalahnya pada penggemgam zatnya sangat ia rasakan karena ia jatuh di bulan yang kelam dan hitam.
Saat lamunan terus berlangsung sore itu, tiba-tiba datang seorang temannya dan mengagetkannya.”yahhh…!”.sambil tertawa. “kamu kenapa?”. Lalu mengerutkan keningnya.
“tidak apa-apa, aku rindu dengan pelangi nila yang sudah lama tak kunikmati.”
8 mei 2013 Pukul 18.00
Lantunan suara merdu seorang pria yang terdengar dari pojok gedung ini mulai menggetarkan hatinya bukan karena ia tertarik dengan pria itu tapi ia kagum dengan kebesaran tuhan yesus yang telah menciptakan suara seindah pelangi jingga.
Lantunan hatinya berkata…”tuhanku, Yesus kau sangat berharga.”.. tapi mengapa kau tak pernah menyuruh umatmu melantungkan adzan seperti halnya muslim?. Dalam hati yang bingung…
9 mei 2013 Pukul 04.35
Pagi yang sangat dingin ini sampai menusuk tulang persendianku, membuatku kembali menarik selimut untuk melanjutkan tidurku kebetulan hari ini hari libur, namun kembali aku mendengar lantunan yang sangat merdu yaitu adzan yang selalu dilantungkan orang muslim untuk memanggil muslim lainnya sembahyang bersama.
Tiba-tiba hati ini kembali bergetar seraya, lantunan adzan itu terus berlanjut dan tiba saat kata “assholatuuu khairun minannaum” terdengar di telingaku, aku sebenarnya baru kemarin tahu apa artinya lewat ustadz yang mengajarkan teman muslim saya tentang pendidikan agama islam, kebetulan saya sering ikut belajar walau saat ini saya adalah orang yang beragama non-muslim.
Tangan, kaki bahkan seluruh tubuhku membeku, tapi mengapa hati ini terdorong dengan kuatnya untuk bangkit dari tidurku, dan terdorong untuk membersihkan diri dengan membasahi sebagian tubuh ini dengan butiran air suci seperti yang sering dilakukan temanku yang muslim.
Tapi, “salahkah bila aku lakukan hal itu?” aku tersentak, aku ingat tuhan yesus sang penggenggam hidupku, tuhan yesus maafkan aku, aku tak pernah berniat berkhianat padamu, pengabdianku padamu sampai akhir hayatku.
Kuambil kitab injil di samping bukuku, kitab yang di amanahkan tuhanku itu, lalu ku baca dan kunikmati sejarah yang terkandung di dalamnya, tapi hatiku tak pernah tergugah dan gemetar saat ku baca kitab ini, apa yang terjadi padaku?
Pukul 08.00
Dari kejauhan kulihat sosok suci dari balik tembok yang sedang asyik memandangi burung yang berkicauan di sekitarnya, ku coba mendekatinya, “bagaimana sebenarnya kandungan kitabmu?”, tanyaku pada Aisyah, karena ku tahu dia tahfidzul dan pengkaji kitab muslim. “Al-quran nama kitab kami, sungguh hatiku sangat bergetar untuk membaca dan mempelajarinya karena saat kudengar pembacaannya sangat merdu.
Kucoba ingin membuktikannya, dengan berpikir panjang apa yang harus aku lakukan dan akhirnya aku pun memutuskan untuk bertanya.
“Bolehkah ku meminjam kitabmu?”
Aisyah langsung terkaget, “untuk apa kau meminjamnya, kau kan non-muslim?”
“Tidak.A-A-A aku hanya ingin merasakan getaran seperti yang sering kau rasakan selama ini.!!!”. jawabku.
“Baiklah, ini!!!” dan ia memberikannya padaku.
Tanganku gemetaran dan sangat dingin memegang kitab ini, ku coba membukanya,
“Adakah penjelasan pelangi jingga disini?”. Tanyaku dalam hati.
“Ataukah ada penjelasan tentang pelangi nila kesukaan stevani disini?”. Tanyaku kembali.
PUKUL 22.00
Aku kebingungan, “apa yang harus ku lakukan dengan kitab ini?” seruku dalam hati. Namun sepertinya rasa kantuk telah melandaku, aku memutuskan untuk tidur tapi aku tak mau juga melepaskan kitab ini dari genggamanku, dan aku memutuskan untuk memeluknya.
10 mei 2013 Pukul 03.00
“Ahhhhhhh…!!!, aku masih mengantuk”. Kesalku mendengar bel yang berbunyi begitu kerasnya, sambil kembali memperbaiki posisi tidurku dan menarik selimut jinggaku.
“Bangunlah!!!”. Teriak Aisyah.
Aku terbangun dan kuperhatikan Aisyah yang sedang membangunkan teman yang lain. Dan aku memutuskan untuk membuka jendela dan memandangi bintang di balik jendela ini. Namun setelah itu, aku terkaget dengan Aisyah yang sedang bersujud di sajadah hijaunya dengan menggunakan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali mukanya.
“Mengapa kau memperhatikanku dengan wajah penasaran seperti itu?” tanya Aisyah setelah mengakhiri ritualnya itu.
“Ti-ti-tidak a-a-aku Cuma lihat saja.” Jawabku terkaget.
“Oh”. Jawabnya singkat
“Apa yang kau lakukan itu?” tanyaku kembali.
“Aku sedang sholat atau sembahyang” jawabnya dengan memancarkan senyum indahnya.
“sholat?”.
“Iya sholat, ini namanya sholat malam atau lail. Ini kulakukan sebagai bukti cintaku pada Allah. Sebaiknya tidurlah”. Jawabnya singkat.
11 mei 2013 pukul 04.05
Bel kembali berbunyi pertanda semua siswa harus bangun,
“Bangunlah”. Pinta Aisyah.
“Inikan hari minggu, kamu harus ke gereja”. Aisyah mengingatkanku..
Aku langsung bangun dan segera ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap ke gereja, tepat pukul 05.00, lagi-lagi aku mendengar lantunan merdu yang kembali membuat hatiku semakin bergetar, tubuhku kaku. Sungguh, pertanda apakah ini tuhan yesus?.
Pukul 10.00
Setelah kembali dari gereja, aku dan pelangi nila menyempatkan diri ke mall sebentar. Aku melihat MP3 berwarna jingga aku tertarik dengan MP3 itu, lalu aku menanyakan harganya, ternyata sangat murah dan aku membelinya apalagi ada hadiahnya berupa memori 2 GB. Dan kubawa pulang ke asrama.
Pukul 12.00
Kucoba MP3 terbaruku, ku memakai headset dan kuputar lagu yang ada di dalamnya,
“Mengapa semua berbahasa arab?”. Tanyaku dalam benakku.
Tapi kucoba menikmatinya dan ketenangan ada dalam hatiku, aku larut dalam merdunya suara dalam MP3 ini. Akhirnya aku sering mebawanya kemanapun aku pergi dan menikmati dalam setiap langkah hidupku.
SETAHUN KEMUDIAN
11 MARET 2014
pelangi nila tapi aku dibarisan paling belakang karena aku takut teman-temanku berpikiran aku mualaf sekarang.
Aku mencoba mendengar intruksinya, jika bacaan di hentikan maka siswa harus melanjutkannya, aku juga ikut mengerti.
Seorang ustadz kami membaca satu bacaan yang membuat aku kaget ternyata bacaan itu yang selama ini ku dengar dan sudah aku hapal, aku mencoba mengacungkan tangan namun tak ada yang memerhatikanku dan menghiraukanku, lalu ustadz menunjuk Aisyah dan Aisyah melanjutkan bacaan itu. Aku berdiri di pojok kelas dan masih menikmati lantunan yang sering kudengar dari MP3 ku yang ku beli setahun yang lalu. Aku tak menyangka seperempat dari lantunan yang selama ini sering ku dengar telah aku hapal.
Hari ini ada tes hapalan bagi umat muslim yang menghapal kitabnya, aku ikut berpartisipasi mendengarnya bersama.
Lalu ustadz lanjut ke bacaan yang lain, aku lagi-lagi mengacungkan tangan, tapi lagi-lagi aku dihiraukan. Berkali-kali aku melakukan itu tapi tak dihiraukan. Akhirnya ada satu bacaan yang tidak ada satu pun ynag mengetahuinya, aku kembali mengacungkan tangan tapi ustadz menghiraukanku lagi. Aku nekat dan aku tiba-tiba berdiri dan melanjutkan bacaan itu sesuai yang aku dengar selama ini.
Semua mata tertuju padaku, bahkan ada yang tidak berkedip mendengar bacaanku.
Aku pun berhenti karena aku merasa aneh dan aku diperhatikan oleh banyak orang, semua orang bertepuk tangan dan bangga kepadaku, tapi sebagian dari mereka ada yang berbisik dan mengatakan “dia adalah pengkhianat agama”.
Mereka semua bertanya-tanya padaku mengapa aku bisa menghapal al-quran dan kuceritakan semuanya mereka kagum terhadapku, bahkan Aisyah mulai mengajakku bergaul dengan teman muslimnya.
2 hari kemudian
Aku dipanggil oleh Aisyah kerumah salah satu temannya, di rumah itu aku mendengar kisah Nabi muhammad saw yang katanya Nabi terakhir bagi umat muslim. Aku mendengar secara seksama, aku tertarik dengan sosoknya.
Setelah pulang dari rumah teman Aisyah aku pun mulai mencari info tentang Nabi muhammad saw melalui internet ternyata aku banyak mendapatkan info yang sangat luar biasa dari sosoknya, aku jadi kagum dengan sosoknya. Bahkan saat ini aku mengidolakannya.
Aku sungguh tergila-gila dengan sosoknya aku bahkan rela melakukan apapun demi sosoknya, aku tak menghiraukan aku berstatus apa sekarang.
Aku cinta padamu Nabi muhammad saw, aisyah menyarankan aku masuk agama islam tapi aku menghargai agama yang dibawa ayahku yaitu kristen, dan sebenarnya aku mencintai tuhan yesusku.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap beragama kristen namun aku akan selalu memperdalam agam islam karena aku cinta dengan Nabi muhammad saw.
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN
Kini umurku telah menginjak 23 tahun, aku telah memiliki 1 orang buah hati. Aku bersuamikan seorang muslim yang baik hati dan menerimaku apa adanya. “Senja” panggilan ayah anak-anakku.
“Senja, orang tuaku menginginkanmu ke jalan yang benar tapi aku memberimu hak suara untuk memilih keyakinanmu”. Ucapnya menghargai keputusanku.
“Langit aku hanya menghargai keutamaan ayahku sebagai pembawa keyakinan trinitas yang menghidupkanku, tapi hati dan cintaku telah menjadi benih islam”. Aku mengungkapakan dengan sebenar-benarnya.
“Senja, jika kau telah yakin maka ucapkan “lailahaillallah”.”
“laa..ila..ha..illa..llah”.
“senja istriku kau telah islam dan kau telah resmi menjadi istriku sesuai agamaku, aku menjadikanmu senja dengan pucuk cahayaku.”
*Kujalani islam dengan keteguhan hati yang tak pernah kuragukan lagi.
Aku kini islam yang menjalankan kehidupan bersama Muhammad Farabi, suamiku. Aku tak tahu harus menyembunyikan anakku lagi di depan orang tua Farabi, karena ketidaksetujuan mereka.
Aku kini telah menjadi menantu yang selalu berbakti dan menyayangi ayah dan ibu farabi dengan sepenuh hatiku. Saat ibu Farabi sakit aku merelakan untuk menemaninya di rumah sakit demi baktiku kepadanya dan sebagai permintaan maafku yang sebesar-besarnya telah menikah dengan Farabi tanpa sepengetahuan mereka.
Aku meminta maaf di depan mereka sebelum aku benar-benar telah menjadi menatunya. Aku bersujud di hadapannya, karena aku sadar kesalahan terbesar telah kami lakukan selama kami mengikat janji dalam keadaan tidak dalam satu mihrab keyakinan kami.
Aku menjalani mihrab cinta bersama suamiku tercinta dalam dekapan cinta anak kami yang senantiasa memberi tawa di selingan hatiku. Aku kini menginginkan anak kami masuk dalam cinta islam yang menaruh selimut cinta yang menghangatkan kami.
Suara teriakan abdul wahid yang terdengar di balik dekapan ayahnya, mengingatkan aku pada nyanyianku saat ku masih menjadi nasrani. Aku menyanyi bersama teman-teman ku di gereja yang ku sucikan yang tak pernah aku jadikan sebagai tempat yang kotor seperti sekarang.
Aku menjadi orang yang berbeda dan tak ada yang sama lagi seperti dulu. Aku kini seorang muslimah yang memiliki bekal hapalan alquran sebanyak 10 juz, aku selalu menidurkan wahid dengan hafalan al quranku.
Wahid, anak yang terlahir dari hasil cinta aku dan farabi. Tapi aku telah menginjakkan diri pada kenasranian.
Misteri yang ada di balik keyakinan ku kini menjadi pertanyaan besar bagi keluargaku yang jauh disana. Saat aku memberi kabar kepada mereka melalui saluran telepon mereka menanyai kabarku. Sampai aku jatuh dalam nostalgia yang tak karuan.
Aku kini jauh dari yang aku tahu sebelumnya menjadi sosok yang menggunakan jilbab yang melambai di balik wajahku yang elok nan indah aku kini telah menjadi ibu yang muslim yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi lebih baik lagi.
Aku mendidik Wahid dalam dua keyakinan yang aku tahu sebelumnya aku masih percaya ilmu kenasranian yang ayahku tanam sejak aku kecil dan aku percaya juga dengan ilmu keislamanku yang sesuai dengan hatiku saat ini.
Masihkah aku dalam kenasranianku?.
Kenasranianku?
Masih adakah tanya tentang hal itu? saat aku sudah menetapkan hati dan jiwaku untuk islam.
Aku kah ini? Mengkhianati sosok ayahku?
Aku kah ini yang rela meninggalkan kembali islam setelah aku benar-benar percaya dan taat akan keberadaaannya?
Masih kah aku ini yang terlahir dari cinta kasih langit dan bumi yang taat akan tuhan yesusku?
Dan masih kah aku menggenggam dunia kenasranianku? Saat aku telah jatuh ke palung yang sangat dalam?
Beribu tanya yang aku lontarkan tak mampu aku jawab bahkan tak ada yang bisa menjawabnya kecuali hati dan logika yang sangat dalam yang mampu menembus kaca terindah ini.
Hati, pikiranku semakin jauh saat ayahku tiba-tiba datang kerumahku, dan melihat anaknya dalam kondisi islam dan telah mempunyai suami yang beragama tak sama dengannya.
Tapi keberuntungan yang datang ke diriku, anakku Wahid yang dasarnya namanya islam tetapi ia jauh dari keislaman yang sebetulnya. Ia betul-betul menjalankan kenasranian yang indah karena aku pernah mengajarinya kenasranian yang pernah ayahku ajarkan padaku.
Jauh ku menyelam, aku harus teguh dalam ke islaman yang kokoh, deburan syahadatku yang telah terucap dulu adalah sebuah saksi bisu keislaman yang tak boleh aku permainkan.
Aku sujud di hadapmu ya allah… aku taubat atas segala keraguanku dulu…
Wahid harus menjadi anak yang teguh pendirian islamnya seperti sosok ayahnya yang tak pernah takut akan keyakinan ku.
Aku taubat dalam deburan ombak kenasranian yang tak boleh aku percaya lagi, nan indah dalam sujud sholat yang bernada dan berirama tak menentu menangkan hati.
Senandung alquran yang terasa merdu di hati bagai alunan lagu surga yang tak ada akhirnya, aku jauh terperosok dulu dalam agama yang tak ada kebenaran sedikit pun.
Senja… kadang aku masih sadar bahwa kau tak pernah marah saat imanku goyah di terpa kerasnya angin yang menerpa iman ku yang lemah kau memang sosok yang selalu ada dalam nestapa keraguanku..
“Ayah… suamiku tercinta aku akan perkuat imanku untuk sebuah cinta terhadap Allah SWT. Aku akan memegang teguh pendirianku. Aku bertaubat atas segala yang telah aku yakini dulu”.
“Dalam linangan air mata yang tak terbendung, keluluhan yang tak bisa tertahan lagi aku bertaubat di hadapmu tuhan atas segala nesstapa luka yang ku alami”.
Mendalam. Sebuah arti kenikmatan yang rahmat yang kau berikan rabb, aku terperosok dalam surga dunia dulu. Menikmati rasa yang pahitnya hidup.
Merintih, dalam jarak yang tak ada batasnya aku hanya larut dalam dilema yang tak berujung kini, aku memang jatuh dalam bahkan tak terlihat lagi.
Bangkit. Kini aku menjadi sosok yang baru menjadi seseorang yang taat beribadah, mematuhi suamiku, mengajarkan anakku tentang keistimewaan islam, dan membawanya seutuhnya dalam islam yang kokoh.
Aku jauh lebih indah, wajahku yang indah bukan dari make up yang dulu memoles wajahku namun wudhuku yang senantiasa aku jaga. Bibirku yang dulu merah merona karena lipstik sekarang bukan karenanya karena keindahan tutur kataku.
“sungguh tak ada yang indah selain keislamanku”.




NB: bUkan aku yang buat cerpen ini. Kalian bisa liat di http://cerpenmu.com/ dan satu lagi, agamaku Islam! bukan Kristen!


Labels: